COMMENTARY ONLINE EXCLUSIVE

Plastik Sebagai Bagian Dari Konstruksi Berkelanjutan

Sifatnya yang serbaguna dan aerodinamis menjadikan plastik cocok untuk digunakan dalam industri konstruksi | Foto: Shutterstock

Oleh Ayu Rizky Widyanti

Plastik identik sebagai material yang buruk dan berbahaya. Namun, bukan plastik yang menjadi musuh kita, melainkan sampah atau limbah yang dihasilkan oleh produsen atau pemakaian material tersebut.

Sampah plastik masih menjadi perhatian semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Sampah ini selalu menjadi permasalahan global yang membutuhkan penanganan serius. Dalam kondisi alami, plastik hampir tidak bisa terurai dengan sendirinya. Padahal, setidaknya sekitar 359 juta ton plastik diproduksi di seluruh dunia setiap tahunnya.

Menurut Jambeck (2015) dalam National Plastic Waste Reduction Strategic Actions for Indonesia, Indonesia telah melepas sekitar 3,22 juta metrik ton sampah plastik ke lautan setiap tahunnya. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai kontributor pencemaran plastik lautan kedua terbesar di dunia setelah Tiongkok.

Baca juga: Membangun Sektor Konstruksi yang Berkelanjutan

Sampah plastik masih menjadi perhatian semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat | Foto: Shutterstock

PEMANFAATAN LIMBAH PLASTIK UNTUK KONSTRUKSI
Menurut Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) pada tahun 2020, dalang terbesar pencemaran plastik di Indonesia adalah keterbatasan kemampuan untuk mengelola dan mengolah sampah dalam negeri. Sebagian besar limbah plastik domestik yang dihasilkan tidak dipilah terlebih dahulu sehingga bercampur menjadi satu dengan limbah lainnya. Sebanyak 78% plastik yang tidak dipungut berakhir dengan dibakar, sementara sebanyak 12% dilepaskan ke badan air, dan sisanya sebanyak 10% dibuang sembarangan yang akhirnya berpotensi mencemari lingkungan.

Keterbatasan pengelolaan dan pengolahan limbah plastik ini menunjukkan potensi dan ruang besar untuk bisa memperbaiki industri pendaurulangan plastik di Indonesia sehingga bisa mengurangi pencemaran plastik di lingkungan. Selain untuk mengurangi pencemaran, pengolahan plastik juga berpeluang menambah nilai jual, terutama pada jenis sampah plastik PP (polypropylene), HDPE (high-density polyethylene), dan PET (polyethylene terephthalate).

Sifatnya yang serbaguna dan aerodinamis menjadikan plastik cocok untuk digunakan dalam berbagai bidang pembangunan, terutama dalam konstruksi. Dalam sebuah penelitian dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menemukan bahwa limbah plastik dapat dimanfaatkan sebagai bahan yang ramah lingkungan dan ringan yang dapat mengembangkan karakteristik mekanik semen agar lebih berkualitas dan terjangkau.

Baca juga: Pipa, Elemen Penting dalam Konstruksi Rumah Hingga Industri

Limbah plastik dapat dimanfaatkan sebagai bahan yang ramah lingkungan dan ringan | Foto: Shutterstock

PENGAPLIKASIAN PLASTIK SEBAGAI BAHAN KONSTRUKSI
Berikut ini beberapa pengaplikasian plastik pada bahan konstruksi modern.

Pipa dan Sistem Saluran
Perpipaan dan sistem saluran merupakan sektor yang paling banyak mengaplikasikan plastik dibandingkan dengan sektor lainnya. Sebanyak 35% dari total penggunaan polimer pada sektor konstruksi diisi oleh sektor perpipaan.

Selubung dan Profil
Dipakai untuk jendela, pintu, dan coving yang biasanya terbuat dari bahan plastik PVC-U. Sedangkan, selubung eksterior biasanya menggunakan plastik fenolik menggantikan material kayu karena lebih tahan bakar.

Isolasi atau Perekat
Rigid foam polystyrene yang diaplikasikan pada panel atau diapit pada dinding atau atap biasanya menjadi bahan untuk memproduksi isolasi atau perekat pada bangunan. Isolasi atau perekat ini terbuat dari plastik dan memiliki keunggulan atas sifatnya yang ringan, kuat, dan mudah untuk dipasang. Keunggulan tersebut memudahkan kontraktor dalam melakukan pengerjaan bangunan.

Segel dan Gasket
Pada proyek konstruksi, segel dan gasket biasanya dibuat dari elastomer yang utamanya digunakan untuk weather stripping, segel bukaan, gasket, dan sambungan ekspansi. Polimer yang biasa digunakan adalah klorofen dan ethylene propylene diene monomer (EPDM) yang memiliki ketahanan cuaca, resisten terhadap deformasi, dan dapat mempertahankan elastisitas dengan baik.

Plastik kerap dipakai sebagai bahan segel atau sekat pada bangunan | Foto: Shutterstock

Baca juga: Mewujudkan Infrastruktur Berkelanjutan di Indonesia

PENGGUNAAN PLASTIK DALAM SEKTOR KONSTRUKSI DI MASA DEPAN
Meskipun sektor konstruksi memiliki tendensi untuk menggunakan material tradisional, namun keberadaan plastik membawa kesempatan yang sangat besar bagi sektor industri ini untuk melakukan inovasi.

Di masa depan, industri konstruksi ini akan selalu bergantung pada kondisi ekonomi. Perubahan yang terjadi pada sektor industri konstruksi saat ini sedikit banyak sudah mulai dipengaruhi oleh permintaan akan perumahan, ditambah dengan regulasi baru yang ditujukan untuk membuat industri ini menjadi lebih efisien dalam memanfaatkan energi, manajemen pembuangan yang lebih baik, pendaur ulangan, dan LCA (life cycle analysis).

Dengan berbagai pertimbangan tersebut tentunya membuat plastik menjadi material yang diunggulkan dalam pembuatan bangunan karena lebih hemat energi dan mudah untuk didaur ulang jika dibandingkan dengan bahan material lainnya. Kedepannya akan lebih sering didapati bangunan-bangunan pintar (intelligent building) dan penggunaan metode-metode, seperti prefabrikasi yang akan perlahan memindahkan pengerjaan konstruksi dari lokasi proyek menuju pabrik.

Memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan konstruksi tentunya memiliki beberapa keuntungan. Selain biayanya yang terjangkau, pengelolaan limbah plastik sebagai bahan konstruksi juga dapat mengurangi pencemaran dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. — Construction+ Online


Disclaimer: Construction+ makes reasonable efforts to present accurate and reliable information on this website, but the information is not intended to provide specific advice about individual legal, business, or other matters, and it is not a substitute for readers’ independent research and evaluation of any issue. If specific legal or other expert advice is required or desired, the services of an appropriate, competent professional should be sought. Construction+ makes no representations of any kind and disclaims all expressed, implied, statutory or other warranties of any kind, including, without limitation, any warranties of accuracy and timeliness of the measures and regulations; and the completeness of the projects mentioned in the articles. All measures, regulations and projects are accurate as of the date of publication; for further information, please refer to the sources cited.

Hyperlinks are not endorsements: Construction+ is in the business of promoting the interests of its readers as a whole and does not promote or endorse references to specific products, services or third-party content providers; nor are such links or references any indication that Construction+ has received specific authorisation to provide these links or references. Rather, the links on this website to other sites are provided solely to acknowledge them as content sources and as a convenient resource to readers of Construction+.