COMMENTARY ONLINE EXCLUSIVE

Lebih Jauh Mengenai Arsitektur Vernakular Indonesia

Desain arsitektur vernakular berkaitan erat dengan gaya bernuansa tradisional dan seringkali mencerminkan tradisi-tradisi dan kebiasaan lokal | Foto: Shutterstock

Oleh: Rosalin Citra Utami

Arsitektur vernakular merupakan sebuah gaya arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari kebiasaan masyarakat lokal yang sudah ada sejak dahulu kala. Berasal dari Bahasa Latin, Vernaculus, kata ini berarti domestik, pribumi atau asli. Secara harafiah, arsitektur vernakular berarti sebuah gaya arsitektur asli di suatu tempat tanpa adanya pengaruh dari tempat lain. Namun demikian, arsitektur vernakular dipengaruhi juga oleh kebudayaan, kondisi iklim, serta ketersediaan bahan baku di suatu tempat sehingga sangat terbuka untuk terjadinya transformasi.

Pada praktiknya, gaya arsitektur vernakular terdahulu dilakukan tanpa adanya campur tangan arsitek profesional ataupun orang yang berpengalaman di bidang arsitektur. Secara umum, pembangunannya pun tercipta setelah melalui trial and error berkepanjangan. Teori tentang arsitektur vernakular sebenarnya sudah ada sejak tahun 1800-an, namun ketertarikan dalam penggunaan dan pengembangannya baru dimulai pada abad ke-20.

Desain arsitektur vernakular pertama muncul ketika manusia membutuhkan tempat untuk bernaung dan beristirahat. Lama kelamaan, hal ini menjadi patokan bagi sebuah wilayah dalam membangun dan mendesain, yang menjadikan wilayah tersebut kemudian memiliki keseragaman pada bangunan-bangunan di dalamnya.

Arsitektur vernakular menggunakan bahan-bahan yang tersedia secara lokal | Foto: Shutterstock

ARSITEKTUR VERNAKULAR DAN ARSITEKTUR TRADISIONAL
Desain arsitektur vernakular berkaitan erat dengan gaya bernuansa tradisional dan seringkali mencerminkan tradisi-tradisi dan kebiasaan lokal. Meski saling berhubungan erat, namun arsitektur vernakular dan tradisional tidak bisa semerta-merta disamakan.

Letak perbedaan dari keduanya terletak pada nilai yang diangkat. Tradisional berasal dari kata tradisi, yang secara teoritis dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan memiliki legitimasi dalam kurun waktu yang panjang, dipertahankan dan diwariskan secara turun-temurun ke generasi-generasi selanjutnya. Sedangkan, arsitektur vernakular lebih bersifat kontekstual dengan menerapkan unsur-unsur budaya, lingkungan dan iklim yang diungkapkan dalam bentuk fisik arsitektural, baik itu dari tata letak denah bangunan, konstruksi struktur, detail-detail ornamen, dan lainnya.

Secara lebih spesifik, perbedaan kedua jenis arsitektur ini juga dipaparkan oleh Design Innovation and Craft Resource Center (DICRC) dari Cept University. Salah satunya, arsitektur tradisional dianggap lebih terbuka dalam memanfaatkan teknologi yang ada dan mengadopsinya sehingga pembangunan bisa dilakukan dengan lebih baik dan efisien, serta dilakukan oleh tenaga khusus yang disiapkan sebelumnya. Sementara itu, arsitektur vernakular yang dilakukan tanpa campur tangan profesional lebih menggunakan sistem pembangunan yang seadanya dan memberdayakan masyarakat lokal sebagai tenaga pembangunnya.

Dari segi material yang digunakan, arsitektur vernakular menggunakan bahan-bahan yang tersedia secara lokal. Bisa dibilang, hal ini membuat arsitektur vernakular lebih ramah lingkungan dan tidak mengganggu ekosistem. Sementara itu, arsitektur tradisional memang kerap menggunakan bahan-bahan alami, namun dalam pembangunannya tidak ada perhitungan secara spesifik terhadap tingkat keramahan lingkungannya.

Terkait desain, arsitektur tradisional menggunakan desain yang telah diwariskan secara turun-temurun. Biasanya desain ini turut disertai dengan berbagai aturan dan pakem yang wajib diikuti. Sedangkan pada arsitektur vernakular, konsep desainnya lebih alami dan kontekstual sesuai kebutuhan.

Baca juga: 10 Bangunan Ikonik dan Tertua di Indonesia

ARSITEKTUR VERNAKULAR DI INDONESIA
Di Indonesia, penggunaan desain arsitektur vernakular telah dilakukan sejak dahulu kala. Berbagai jenis rumah tradisional dianggap sebagai hasil tradisi vernakular dan dipercaya memiliki kesamaan asal muasal dari tradisi pembangunan kuno.

Perbedaan suku, budaya, dan etnik yang beragam menjadikan Indonesia memiliki berbagai jenis bangunan tradisional yang unik dan berbeda sesuai dengan kondisi yang ada di masing-masing daerah. Tiap daerah di Indonesia mempunyai tipe-tipe rumah tradisional yang ikonik dan khas yang dibangun berdasarkan tradisi-tradisi arsitektur vernakular sehingga menghasilkan suatu keanekaragaman yang sangat menarik.

Secara umum rumah-rumah tradisional ini dibangun dengan kemiripan desain yang kemudian menciptakan nilai tradisi lokal yang semakin kuat. Meskipun seiring berjalannya waktu, tradisi dan gaya bangunan yang baru dan berbeda akan muncul. Tetapi dalam beberapa hal, tradisi arsitektur vernakular masih dapat bertahan di Indonesia.

Menurut Ade Sahroni, secara morfologis bentuk struktur dan fitur yang dimiliki rumah-rumah tradisional di Indonesia terdiri dari dua macam. Paling umum ditemukan di Indonesia bagian barat dibangun berdasarkan prinsip tipikal tradisi arsitektural Austronesia kuno. Struktur berbentuk kotak yang didirikan di atas tiang pondasi kayu dengan atap miring dan jurai yang diperpanjang, disertai dengan bagian depan atap yang condong mencuat keluar. Sedangkan, rumah-rumah tradisional yang terletak di bagian timur Indonesia digolongkan sebagai bagian dari tradisi arsitektur vernacular dengan bentuk bangunan yang memiliki lantai bulat menyerupai lingkaran dan berstruktur atap kerucut tinggi.

Baca juga: Adaptive Reuse: Giving New Life to Heritage Buildings

PENERAPAN ARSITEKTUR VERNAKULAR DI INDONESIA
Rumah Batak
Rumah tradisional Batak ditemui di daerah pegunungan di sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir di Provinsi Sumatra Utara. Tradisi arsitektur vernakular Batak terdapat pada bangunan komunal (bale), lumbung padi (soro), dan bangunan untuk menggiling beras, serta rumah untuk orang menyimpan jenazah (joro). Melalui proses adaptasI, tercipta suatu bangunan arsitektur berciri lokal dengan menggunakan teknologi sederhana dan tepat guna berbentuk khas sebagai arsitektur vernakular dan tradisional, serta menggunakan material secara wajar dan tidak berlebihan.

Rumah Batak | Foto: Shutterstock

Rumah Jawa
Rumah Joglo merupakan salah satu bengunan Rumah Jawa yang menerapkan prinsip vernakular dan masih sering ditemui hingga sekarang. Rumah ini memiliki bentuk dasar persegi panjang dengan ciri khas atap trapesium berlapiskan genteng tanah liat. Material yang digunakan dan mendominasi bangunan biasanya merupakan material kayu yang mudah ditemui.

Rumah Jawa | Foto: Shutterstock

Rumah Gadang
Bangunan Rumah Gadang memiliki desain yang unik dengan bentuk atap runcing menyerupai tanduk. Material atap juga menggunakan bahan-bahan alami dan lokal, seperti ijuk dan dedaunan kering. Pemilihan material itu bukan tanpa alasan. Kondisi wilayah Sumatera Barat yang rawan gempa membuat masyarakat lokal membangun rumah dengan material atap yang ringan dan tahan gempa.

Rumah Gadang | Foto: Shutterstock

Rumah Sumba
Rumah Adat Sumba masih terbagi-bagi menjadi beberapa jenis. Namun, secara umum memiliki bentuk dasar persegi dengan bentuk atap berpuncak dan menjulang tinggi ke atas menyerupai menara. Struktur atap menara memanfaatkan bambu sebagai kasau yang kemudian dilapisi dengan rangkaian ikatan alang-alang yang ditumpuk dari bagian bawah sampai ke atas atap. Material bambu dan alang-alang tersebut merupakan material lokal yang sangat mudah ditemui di Pulau Sumba.

Rumah Sumba | Foto: Shutterstock

Dari beberapa contoh bangunan tradisional di atas, dapat dilihat bahwa di beberapa tempat di Indonesia konsep arsitektur vernakular masih sangat melekat pada bangunan-bangunan adat. Bentuk dan desain serta nilai-nilai yang dimiliki arsitektur vernakular juga telah menjadi ciri khas bagi arsitektur negara ini. Untuk itu, tentunya perlu dilakukan berbagai upaya pelestarian agar kepunahan arsitektur vernakular yang merupakan warisan budaya tak ternilai dapat dicegah. — Construction+ Online


Disclaimer: Construction+ makes reasonable efforts to present accurate and reliable information on this website, but the information is not intended to provide specific advice about individual legal, business, or other matters, and it is not a substitute for readers’ independent research and evaluation of any issue. If specific legal or other expert advice is required or desired, the services of an appropriate, competent professional should be sought. Construction+ makes no representations of any kind and disclaims all expressed, implied, statutory or other warranties of any kind, including, without limitation, any warranties of accuracy and timeliness of the measures and regulations; and the completeness of the projects mentioned in the articles. All measures, regulations and projects are accurate as of the date of publication; for further information, please refer to the sources cited.

Hyperlinks are not endorsements: Construction+ is in the business of promoting the interests of its readers as a whole and does not promote or endorse references to specific products, services or third-party content providers; nor are such links or references any indication that Construction+ has received specific authorisation to provide these links or references. Rather, the links on this website to other sites are provided solely to acknowledge them as content sources and as a convenient resource to readers of Construction+.