COMMENTARY ONLINE EXCLUSIVE

10 Bangunan Ikonik dan Tertua di Indonesia

Kelenteng Sam Poo Kong | Foto: Shutterstock

Oleh: Rosalin Citra Utami

Sejarah panjang Indonesia sebagai sebuah bangsa tidak hanya bisa dipelajari dari catatan-catatan masa lalu, namun juga dari peninggalan arsitekturnya. Bangunan-bangunan tua di Indonesia merupakan salah satu sumber pembelajaran arsitektur yang lambat laun turut memberikan pengaruh terhadap gaya arsitektur modern yang berkembang di Indonesia. Berikut adalah beberapa bangunan tertua yang masih bisa ditemui di Indonesia hingga saat ini yang diurutkan berdasarkan tahun pembangunannya.

Candi Borobudur | Foto: Shutterstock

CANDI BOROBUDUR
Tahun Pembangunan: 775-850 M
Lokasi: Magelang, Jawa Tengah
Fungsi: Bangunan keagamaan
Terletak di Kota Magelang, Jawa Tengah, Candi Borobudur merupakan salah satu bangunan ikonik di Indonesia karena bangunan ini merupakan candi Buddha terbesar di dunia yang juga telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia.

Keseluruhan candi ini terdiri atas enam teras bujur sangkar berupa punden berundak dengan tiga pelataran melingkar di atasnya. Pelataran ini berada pada tiga tingkatan yang berbeda, melambangkan kosmologi Buddha Mahayana. Masing-masing tingkatan ini adalah kamadhatu (kaki), rupadhatu (tubuh), dan arupadhatu (atas).

Pada bagian dindingnya, candi yang memiliki banyak stupa ini dihiasi dengan 2.672 relief, yang merupakan koleksi relief Buddha terlengkap di dunia. Tidak hanya menggambarkan tentang kehidupan Sang Buddha Gautama, relief yang ada di Candi Borobudur juga menggambarkan suasana alam dan bangunan tradisional nusantara.

CANDI PRAMBANAN
Tahun Pembangunan: 850-856 M
Lokasi: Sleman, D. I. Yogyakarta
Fungsi: Bangunan keagamaan
Selain Candi Borobudur yang merupakan bangunan candi Buddha, Indonesia juga terkenal akan Candi Prambanan yang adalah sebuah candi Hindu. Lokasi candi ini cukup unik, mengingat bahwa jika dilihat secara keseluruhan, kompleks Candi Prambanan merupakan bagian dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, namun pintu masuk administrasinya berada di Provinsi Jawa Tengah.

Struktur bangunan ini sangat menggambarkan arsitektur Hindu secara umum dengan bentuk yang tinggi dan ramping. Pusatnya berada pada Candi Siwa yang merupakan candi utama dengan ketinggian sekitar 47 meter dan dikelilingi oleh susunan candi-candi lain yang berukuran lebih kecil. Sama seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan juga merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO.

Fort Rotterdam | Foto: Shutterstock

BENTENG FORT ROTTERDAM
Tahun Pembangunan:
1545
Lokasi:
Makassar, Sulawesi Selatan
Fungsi:
Bekas bangunan militer
Benteng Fort Rotterdam merupakan sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pembangunan benteng ini dimulai pada tahun 1545 oleh Raja Gowa X, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung. Pada saat awal dibangun, benteng ini berbentuk segi empat, umumnya seperti benteng Portugis. Namun ketika Kerajaan Gowa-Tallo menyerah, benteng ini dibangun kembali oleh VOC dengan bentuk yang dianggap menyerupai penyu.

Mulanya kontruksi benteng ini menggunakan bahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Sultan Alaussin diganti menggunakan batu padas yang berasal dari Pegunungan Karts di wilayah Maros. Sebelum direbut oleh Belanda, benteng ini bernama Benteng Jumpandang. Pada abad ke XVII, benteng ini dimanfaatkan dan dikembangkan oleh VOC sebagai gudang penyimpanan rempah-rempah, terutama yang diambil dari wilayah timur Indonesia.

KELENTENG SAM POO KONG
Tahun Pembangunan:
1704
Lokasi: Semarang, Jawa Tengah
Fungsi: Bangunan keagamaan
Kelenteng Sam Poo Kong merupakan sebuah kelenteng yang didirikan sebagai penanda tempat persinggahan dan pendaratan pertama Laksamana Cheng Ho. Bangunan kelenteng ini menjadi unik karena Laksamana Cheng Ho dikenal sebagai seorang Laksamana Tiongkok yang beragama Islam yang mempengaruhi ciri-ciri keislaman yang ditemui pada kompleks kelenteng ini.

Kelenteng Sam Poo Kong terdiri dari beberapa kompleks bangunan, yaitu Kelenteng Utama Sam Poo Kong, Kelenteng Kyai Juru Mudi, Kelenteng Dewa Bumi, Kelenteng Kyai Jangkar, Kelenteng Kyai Nyai Tumpeng, serta Kelenteng Kyai Tundrik Bumi. Jika diperhatikan, pada dinding luar bangunan utama terdapat relief batu yang berisi kisah perjalanan Laksamana Cheng Ho yang diukir oleh seorang seniman dari Bali. Material batu yang digunakan pada relief ini didatangkan langsung dari Tiongkok.

GEREJA BLENDUK
Tahun Pembangunan:
1753
Lokasi:
Kota Lama, Semarang, Jawa Tengah
Fungsi:
Bangunan keagamaan
Dibangun pada tahun 1753, Gereja Blenduk merupakan salah satu landmark yang terkenal di kawasan Kota Lama, Semarang. Selain bentuknya yang unik, gaya arsitektur Neo-Klasik yang dimiliki gedung ini juga membuatnya menonjol. Gedung yang dikenal dengan nama Gereja GPIB Immanuel ini terletak di Jalan Letjen Suprapto No. 32, Kota Lama Semarang. Pada tahun 1894, gedung gereja ini direnovasi oleh W. Westmaas dan H. P. A. de Wilde, yang menambahkan dua menara di depan gedung gereja.

Secara keseluruhan, Gereja Blenduk memiliki struktur yang simetris dengan satu bagian depan yang terbelah secara vertikal menjadi tiga bagian. Bangunan ini menghadap ke selatan dan memiliki dua lantai. Hingga saat ini, Gereja Blenduk masih digunakan untuk beribadah setiap hari Minggu. Julukan Blenduk sendiri berarti kubah yang diberikan oleh masyarakat setempat, mengacu pada bentuk gereja yang unik dan memiliki bentuk kubah di bagian atapnya.

Taman Sari, Keraton Yogyakarta | Foto: Shutterstock

KERATON YOGYAKARTA
Tahun Pembangunan:
1755
Lokasi:
Kota Yogyakarta, D.I. Yogyakarta
Fungsi:
Bangunan pemerintahan
Terdiri dari sebuah kompleks bangunan yang besar, rancangan Keraton Yogyakarta dapat dilihat sebagai salah satu cerminan kosmologi dan budaya Jawa yang sangat kental. Kompleks keraton mulai dibangun oleh Sultan Hamengkubowono I pada tahun 1755 hingga kemudian selesai pada tahun 1790. Keraton ini didirikan akibat adanya perpecahan Kerajaan Mataram Islam yang diatur melalui Perjanjian Giyanti. Kesepakatan ini kemudian memecah Kerajaan Mataram menjadi dua, Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta.

Salah satu yang unik dari bangunan keraton ini adalah arah hadapnya yang menuju utara, tertata rapi dalam sebuah garis imajiner yang tegak lurus hingga ke arah Gunung Merapi. Di bagian selatan, jika diperhatikan maka garis imajiner tersebut akan menghubungkan keraton menuju Samudera Hindia.

GEREJA KATEDRAL JAKARTA
Tahun Pembangunan:
1810-1901
Lokasi:
Jakarta Pusat, DKI Jakarta
Fungsi:
Bangunan keagamaan
Gereja Katedral Jakarta yang memiliki nama resmi Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga merupakan salah satu gereja Katolik tertua yang ada di Indonesia. Desain gedung gereja ini dibangun dengan gaya arsitektur Neo-Gothic khas Eropa yang cukup umum digunakan dalam pembangunan gedung keagamaan, khususnya gereja.

Meskipun bangunan gereja yang umum dikenal saat ini terbilang sudah sangat tua, namun nyatanya gedung tersebut bukanlah gedung gereja yang asli. Gedung gereja yang asli diresmikan pada bulan Februari tahun 1810, namun mengalami kebakaran dan masalah struktur lainnya yang menyebabkan renovasi gedung gereja perlu dilakukan hingga pada akhirnya diresmikan lagi pada tahun 1901.

Istana Maimun | Foto: Shutterstock

ISTANA MAIMUN
Tahun Pembangunan:
1891
Lokasi:
Medan, Sumatera Utara
Fungsi Bangunan:
Bangunan pemerintahan
Dibangun pada tahun 1891, Istana Maimun merupakan bangunan milik Kesultanan Deli yang berlokasi di Provinsi Sumatera Utara dan masih tegak berdiri hingga saat ini. Rancangan desain bangunannya dilakukan oleh arsitek Belanda, Capt. Theodoor van Erp dan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Ma’moen Al Rasyid.

Secara keseluruhan, bangunan Istana Maimun nampak khas dengan gaya arsitektur melayu, lengkap dengan dominasi warna kuningnya. Namun jika dilihat lebih teliti, terdapat berbagai gaya arsitektur lain yang bisa ditemukan di bangunan istana ini. Beberapa di antaranya adalah gaya arsitektur India pada bagian interior bangunan, kubah pada bagian atap yang menonjolkan gaya arsitektur Islam yang khas, serta pencahayaan bangunan yang didominasi gaya arsitektur Italia.

LAWANG SEWU
Tahun Pembangunan:
1904
Lokasi:
Semarang, Jawa Tengah
Fungsi:
Bekas bangunan perkantoran
Lawang Sewu awalnya digunakan sebagai kantor pusat bagi perusahaan kereta api swasta pada masa Hindia-Belanda bernama Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. Dibangun secara bertahap pada lahan seluas 18.232 m2, kini bangunan Lawang Sewu menjadi gedung bersejarah di bawah kepemilikan PT Kereta Api Indonesia.

Keseluruhan bangunan Lawang Sewu dirancang oleh Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B. J. Ouendag yang berasal dari Amsterdam, Belanda. Bangunan utamanya mulai dibangun pada tanggal 27 Februari 1904 dan selesai pada bulan Juli 1907. Sebagai pelengkap, bangunan tambahan dibangun sekitar tahun 1916 yang kemudian selesai tahun 1918. Bangunan ini memiliki bentuk menyerupai huruf L dengan jumlah pintu dan jendela yang amat banyak, ditujukan untuk sistem sirkulasi udara. Dengan bukaan pintu dan jendela yang banyak itulah nama Lawang Sewu yang berarti seribu pintu mulai muncul di kalangan masyarakat.

Gedung Sate | Foto: Shutterstock

GEDUNG SATE
Tahun Pembangunan:
1920
Lokasi: Bandung, Jawa Barat
Fungsi: Bangunan pemerintahan
Meskipun terbilang baru jika dibandingkan dengan bangunan lain, Gedung Sate yang dulunya bernama Gouvernements Bedrijven telah berusia lebih dari 100 tahun jika dihitung sejak awal mula pembangunannya pada tanggal 27 Juli 1920. Jika dilihat sekilas, Gadung Sate mungkin tampak seperti bangunan kolonial pada umumnya, namun rancangan arsitektur Gedung Sate lebih mengacu pada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa (Indo-Europeeschen architectuur stijl).

Sang arsitek, J. Gerber yang merupakan arsitek muda kenamaan lulusan dari Fakultas Teknik Delft, Belanda, juga menyatakan bahwa desain Gedung Sate merupakan campuran dari gaya arsitektur Eropa dan Nusantara. Nama Gedung Sate sendiri diambil dari hiasan di bagian puncak gedung yang menyerupai tusuk sate, lengkap dengan enam bulatan yang menancap di sana.

— Construction+ Online


Disclaimer: Construction+ makes reasonable efforts to present accurate and reliable information on this website, but the information is not intended to provide specific advice about individual legal, business, or other matters, and it is not a substitute for readers’ independent research and evaluation of any issue. If specific legal or other expert advice is required or desired, the services of an appropriate, competent professional should be sought. Construction+ makes no representations of any kind and disclaims all expressed, implied, statutory or other warranties of any kind, including, without limitation, any warranties of accuracy and timeliness of the measures and regulations; and the completeness of the projects mentioned in the articles. All measures, regulations and projects are accurate as of the date of publication; for further information, please refer to the sources cited.

Hyperlinks are not endorsements: Construction+ is in the business of promoting the interests of its readers as a whole and does not promote or endorse references to specific products, services or third-party content providers; nor are such links or references any indication that Construction+ has received specific authorisation to provide these links or references. Rather, the links on this website to other sites are provided solely to acknowledge them as content sources and as a convenient resource to readers of Construction+.