INTERIORS

Gro House

Pembangunan rumah dengan menggunakan pasangan bata sudah menjadi asumsi umum yang beredar di masyarakat awam. Berbeda dengan pandangan tersebut, Gro House di Setu, Kabupaten Bekasi, dibangun dengan material-material kering, seperti bitumen, plywood, dan baja. Tidak hanya tampil berbeda, tetapi pemanfaatan beberapa material utama ini justru memberikan efisiensi dan manfaat yang positif, selain juga menghadirkan kesan berbeda dari sisi arsitektural.

Didesain sebagai rumah tumbuh yang dibangun sesuai bujet awal, proyek ini mengutamakan penghematan energi, low maintenance, bentuk massa yang sederhana tapi memiliki gaya desain yang berkarakter, serta mengutamakan unfinished finishing. Untuk itu, Atelier Bertiga selaku konsultan arsitekturnya harus memilih antara kebutuhan dan kemauan klien dalam proses perencanaan hingga pelaksanaannya.

RUMAH TUMBUH TROPIS
Gro House dibangun melalui pendekatan kebutuhan dari pemilik yang merupakan pasangan baru dan hanya memerlukan satu kamar tidur saja. Harapan untuk medapatkan anak di kemudian hari diterjemahkan melalui pembuatan satu kamar tidur lain yang disesuaikan dengan bujet yang tersedia.

Selebihnya, hunian ini tampil sangat compact dan sederhana, di mana attic room-nya dimanfaatkan sebagai ruang kerja. Struktur utama dari bangunan ini juga sudah diperhitungkan jika kelak terjadi penambahan lantai. Di sekitar rumah ini dibuat area resapan lebih dari 50% lahan yang ada, serta ditanami oleh 7 buah pohon eucalyptus rainbow berukuran besar.


To read the complete article, register your details above
to be notified once the revamped Construction Plus App is ready!

DATA PROYEK
Nama Proyek: Gro House
Lokasi: Harvest City, Setu, Kab. Bekasi
Selesai: 2018
Luas Tapak: 102 meter
Luas Bangunan: 76 meter persegi
Jumlah Lantai: 3
Konsultan Desain Interior: Atelier Bertiga
Principal Designer: Mahadiyanto
Foto: Jhony Hutapea & Mahadiyanto