NEWS & EVENTS ONLINE EXCLUSIVE

Apresiasi Masyarakat Tradisional Dayak Lewat Mother Earth & Architecture

Arus modernisme menuntut manusia modern semakin menginginkan kemudahan dan kepraktisan dalam setiap aspek kehidupan. Kondisi ini sangat dirasakan oleh masyarakat di perkotaan dan daerah yang telah merasakan kemajuan. Namun, hal ini tidak terasa secara signifikan bagi masyarakat tradisional yang masih memiliki jarak dengan peradaban masa kini.

Hal ini menginspirasi Yayasan Widya Cahaya Nusantara (YWCaN) untuk melakukan pendampingan kepada masyarakat tradisional Suku Dayak Iban yang tinggal di Sungai Utik, pedalaman Kalimantan. Berkolaborasi dengan Rumah Asuh dan Tirto Utomo Foundation yang memiliki visi sama, mereka mendampingi Suku Dayak Iban di Sungai Utik untuk bisa mempertahankan karakter, tradisi, dan juga kepercayaan tradisional ketika masyarakat setempat berinteraksi dengan perubahan zaman dan modernisasi.

Melalui pendampingain ini, YWCAN, Rumah Asuh, dan Tirto Utomo Foundation memiliki harapan besar agar bisa mengurangi tergerusnya budaya dan tradisi lokal mereka meskipun tetap berinteraksi dengan peradaban masa kini dan modernisasi. Oleh karena itu, salah satu bangunan yang akan segera direalisasikan adalah bangunan rumah budaya yang akan mewadahi aktivitas masyarakat tradisional dan menjadi jembatan bagi generasi yang lebih muda agar dapat tetap mempelajari kebudayaannya sendiri dan sekaligus tetap berinteraksi dengan segala kemajuan dan perubahan zaman.

“Ada banyak hal yang istimewa dari masyarakat Sungai Utik melalui local wisdom mereka yang berhasil mempertahankan hutan adat dan budaya seluas 10.000 hektare. Hutan adat ini menjadi bagian dari hutan paru-paru dunia,” jelas Brunoto Arifin dari YWCaN. “Selain Rumah Budaya yang menjadi galeri budaya dan wadah bagi pemberdayaan masyarakat, satu lagi bangunan yang akan dibangun, yaitu rumah ibadah Gereja Katholik yang dirancang dengan menggali nilai-nilai dan kearifan lokal setempat,” tambah Yori Antar, pendiri Rumah Asuh dan principal Han Awal & Partner.

Dua bangunan inilah yang menjadi highlight dari pameran “Mother Earth & Architecture” yang diselenggarakan tanggal 28 November hingga 7 Desember 2019 dalam rangka Bintaro Design District 2019 di kantor Han Awal & Partners. Beragam kegiatan juga menjadi rangkaian acara yang meramaikan pameran tentang kehidupan Suku Dayak Iban di Sungai Utik. Beberapa workshop oleh Demi Bumi yang diselenggarakan pada tanggal 30 November 2019 yang lalu merupakan perwujudan inspirasi dari semangat Suku Dayak Iban dalam menjaga alam. Sementara itu, di SDN Pondok Pucung yang tidak jauh dari kantor Han Awal & Partners dibuat instalasi “Peek A Boo” yang terdiri dari 4 kotak stainless steel untuk menarik perhatian para pelajar SD mengintip ke dalam kotak tersebut.

Selain itu, sebuah talkshow diselenggarakan pada tanggal 4 Desember 2019 lalu membahas lebih dalam mengenai proses pendampingan masyarakat Suku Dayak Iban di Sungai Utik dan bagimana desain rumah budaya dan gereja nantinya mampu menjadi representasi dari karakter dan tradisi mereka. Dalam talkshow tersebut, hadir Apai Janggut selaku tetua Suku Dayak Iban.

Puncaknya adalah acara “Dayak Melihat Dunia” yang diselenggarakan pada tanggal 6 Desember 2019 yang menghadirkan atraksi tarian Dayak, seni tattoo Dayak, booth Borneo chic, booth Demi Bumi, dan juga pertunjukan musik dengan alat musik khas Dayak yang disebut Sape. Melalui acara ini YWCaN, Rumah Asuh, dan Tirto Utomo Foundation mengharapkan dunia bisa lebih mengenal keindahan dan luhurnya budaya Suku Dayak Iban di Sungai Utik, serta membuka mata kesadaran dan apresiasi publik terhadap kehidupan masyarakat tradisional yang perlu terus didampingi agar tradisi dan budaya mereka tidak tergerus oleh perubahan zaman. — Construction+ Online