ONLINE EXCLUSIVE PROJECTS

Rumah Genteng

Rumah tumbuh yang kontekstual dengan iklim tropis menerapkan zero construction waste

Proyek ini merupakan rumah tumbuh yang kontekstual dengan iklim tropis, sekaligus menjadi bangunan dengan zero construction waste. Didesain oleh SASO, Rumah Genteng merupakan pembangunan kembali rumah lama yang tidak dapat digunakan lagi ruangan-ruangannnya. Setelah dirombak ulang, penataan ruang yang sehat dan mengundang interaksi, serta penggunaan material-material lama yang disusun untuk memberi nilai fungsional dan estetis, merupakan elemen utama yang dihadirkan pada proyek rumah ini.

PEMANFAATAN MATERIAL LAMA
Material bekas dari rumah lama dimanfaatkan kembali pada proyek ini, baik sebagai alat bantu selama proses konstruksi maupun material finishing rumah baru. Seluruh bagian bangunan lama sebisa mungkin dipisahkan dan diolah untuk digunakan sebaik mungkin. Dengan demikian proyek ini menambah waktu guna (lifespan) tiap-tiap material tersebut.

Implementasinya diterapkan pada penggunaan rumah lama sebagai bedeng kerja tukang, kayu-kayu atap yang digunakan sebagai perancah karena sudah tidak dapat difungsikan lagi akibat termakan rayap, keramik lama yang diolah untuk digunakan ulang dengan teknik yang sangat sederhana, tralis jendela yang digunakan sebagai tralis atap inner court, dan genteng bekas yang disusun dan dijadikan elemen arsitektural dan secondary skin untuk menutup bangunan dari panas langsung matahari.

INNER COURT
Terletak di lingkungan perumahan yang sangat padat, rumah tinggal ini ingin memberikan kesan terbuka namun memiliki privasi yang tinggi. Oleh karena itu, Rumah Genteng didesain oleh SASO dengan menggunakan bukaan-bukaan di sekeliling bangunan. Kesan terbuka namun ditutup dengan pola-pola unik dari genteng lama diaplikasikan pada inner court untuk membatasi visual dari luar masuk ke dalam bangunan.

Meskipun Rumah Genteng berada di lahan yang sempit, hunian ini masih memiliki inner court. Inner court diletakkan tepat di sebelah ruang utama rumah dengan pembatas pintu kaca yang dapat dibuka secara maksimal. Ketika pintu rumah dibuka, batas luar dan dalam ruang utama menjadi sangat bias.

PEDULI LINGKUNGAN
Terhadap lingkungan, SASO meminimalisir dampak negatif dari bangunan, mulai dari proses konstruksi sampai sudah terbangun. Dengan adanya secondary skin dan desain bangunan dengan sistem cross ventilation yang baik, rumah ini dapat menjaga suhu dalam ruangan tetap rendah sehingga penghuni dapat melakukan efisiensi energi untuk mengkondisikan udara di dalamnya. Secara sosial, bangunan ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitar dan arsitektur hijau secara global dengan mengedepankan isu material lama yang tidak melulu harus dibuang.

Dalam mendesain proyek ini, SASO melakukan inventarisasi material bekas dari rumah lama sebanyak mungkin. Keputusan-keputusan desain banyak dipengaruhi oleh material-material bekas tersebut, termasuk pemanfaatan genteng sebagai elemen fasad yang berguna secara estetis dan fungsional. Tidak hanya itu, dimensi bukaan bangunan juga dipengaruhi oleh dimensi tralis lama yang masih dapat digunakan.

RUMAH TUMBUH
Layout ruang-ruang dalam bangunan juga didesain sangat compact dan efisien, termasuk desain furnitur meja makan yang dimensinya dapat berubah-ubah sesuai kebutuhan. Keliling bangunan juga dibuat tidak menempel dengan tetangga untuk membiarkan cahaya dan udara alami masuk ke dalam bangunan. Area terbuka ditutup dengan material yang permeable sehingga membuat tanah memiliki kembali daya serapnya.

Studi terhadap pemasangan genteng sebagai secondary skin merupakan tantangan terbesar dalam proyek ini, apalagi mengingat bujet yang dikeluarkan tidak terlalu besar sehingga memberi batasan solusi terhadap masalah tersebut. Untuk mengatasinya, dibuatlah mock-up dan studi di lapangan bersama tim dari kontraktor. Penggunaan material dipilih seefisien mungkin namun tidak mengesampingkan fungsi dan keamanan penggunaan material ini.

Melalui penempatan yang baik, ruang dalam rumah bisa menjadi sangat hidup dan menarik. Penataan layout dan perencanaan awal rumah ini disesuaikan juga dengan kemungkinan perkembangan rumah di masa depan. Rumah Genteng sudah disiapkan untuk tumbuh menjadi 2 lantai dengan tambahan ruang di lantai atas. Saat proses itu terjadi, penghuni tidak perlu lagi meninggalkan rumah dan terganggu aktivitas sehari-harinya karena akses dan konstruksi bangunan dapat dilakukan tanpa mengganggu ruang-ruang eksisting.

Rumah Genteng ingin menyampaikan pesan bahwa setiap proyek dapat memiliki nilai tambah yang sangat spesifik dan kontekstual sehingga dapat berperan bagi kualitas kehidupan alam, termasuk manusia yang menghuninya. Tiap hal dalam desain sebaiknya dilihat ulang dan dibongkar (disrupsi), lalu ditata kembali sesuai kebutuhan masing-masing proyek. – Construction+ Online

DATA PROYEK
Nama Proyek: Rumah Genteng (Rooftile House)
Lokasi: Bintara, Bekasi
Luas Tapak: 114 meter persegi
Luas Bangunan: 85 meter persegi
Selesai: 2019
Jumlah Lantai: 1
Konsultan Arsitektur: SASO
Principal Architect: Andi Subagio
Konsultan Desain Interior: SASO
Principal Designer: Andi Subagio
Kontraktor Utama: Michael Khrisna
Interior Fit-Out Contractor: Michael Khrisna
Foto: Gluck Studio