COMMENTARY

Membangkitkan Kembali Material Konstruksi Karya Anak Bangsa

Sejarah material konstruksi berawal dari zaman penjajahan Belanda. Pada zaman penjajahan, kita sudah mengenal material konstruksi, khususnya beton yang dibawa oleh para ahli dari Belanda. Harus kita akui bahwa perkembangannya di Indonesia tertinggal sekitar 20-30 tahun dibandingkan dengan perkembangan teknologi material di dunia. Saat ini, perkembangan struktur beton negara-negara maju sudah mengarah pada smart structure, dengan teknologi nano sebagai trigger, sementara Indonesia masih bergulat pada beton mutu tinggi dan beton scc (self-consolidating concrete).

PRODUK DAN PEKERJA KONSTRUKSI
Bahan konstruksi di Indonesia masih didominasi dengan produk-produk dari luar negeri. Dengan banyaknya proyek yang dimiliki oleh investor asing, berimplikasi pada material konstruksi yang berasal dari negara maju sehingga mau tidak mau material-material tersebut terpaksa masih kita impor. Akibatnya, saat ini banyak material konstruksi dari luar negeri yang membanjiri pasar material konstruksi di Indonesia.

Keterkaitan Pendidikan, R&D dan Inovasi

Material baja dan kaca adalah contoh di mana produk lokal kalah bersaing dengan produk China, terutama dari sisi harga. Kita tidak mungkin melarang produk luar masuk ke Indonesia karena akan menimbulkan protes dari negara produsen produk tersebut. Selain itu, demand produk luar memang tinggi dan dibutuhkan pada proyek besar dan modern. Namun permasalahan yang sering terjadi pada material konstruksi lokal adalah kelemahan dari sisi harga yang relatif lebih mahal, dengan kualitas yang  belum stabil.

Keuntungan menggunakan material lokal adalah adanya Standar Nasional Indonesia (SNI)

Lalu, bagaimana dengan material lokal agar dapat berkembang? Tentu produk-produk tersebut harus diberi peluang oleh para stakeholder, terutama pemerintah melalui regulasi dengan mewajibkan pemilik proyek, terutama proyek pemerintah, untuk menggunakan produk lokal. Kemudian, pemerintah juga telah mewajibkan setiap produk memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memberi peluang material lokal berjaya. Contoh menarik adalah semen produk Indonesia yang terbukti efektif untuk membatasi kehadiran produk semen yang  berasal dari luar negeri untuk masuk pasar kita. Hal ini terbukti bahwa produk semen Indonesia masih menguasai pasar semen dalam negeri.

Tantangan lain yang juga tak kalah penting adalah sisi sumber daya manusia (SDM). Perkembangan teknologi material sekarang ini mau tidak mau membuat para pekerja konstruksi harus meningkatkan diri (update) dengan pengetahuan teknologi bahan dan material konstruksi. Material-material baru memang membutuhkan tenaga terampil dalam hal pengaplikasiannya.


IR. JONBI, MT., MM., MSI.
ASSOCIATE PROFESSOR FAKULTAS TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS PANCASILA

Jonbi mendapatkan gelar sarjana teknik dari ISTN Jakarta tahun 1989, dilanjutkan dengan  gelar S2 Magister Manajemen (MM) yang diperoleh dari STIE IPWI-Jakarta tahun 1995, gelar S2 Master of Science yang diperoleh dari Universitas Indonesia Jakarta tahun 1997, serta gelar S2 Teknik Sipil Universitas Indonesia yang didapatkan pada tahun 1998. Ia juga meraih gelar Doktor Teknik Sipil ITB Bandung pada tahun 2013.

Saat ini, Jonbi aktif sebagai tenaga pengajar di Universitas Pancasila sejak tahun 2003 dan aktif sebagai Expert Material di PT Hakaaston sejak Desember 2020. Selain itu, ia juga merupakan praktisi di bidang Forensic Engineering and Concrete Repair, selain juga aktif di berbagai organisasi seperti Asosiasi Inventor Indonesia (AII), Ikatan Ahli Pracetak dan Prategang Indonesia (IAPPI), ACI, ASCE, FIB, dan Masyarakat Nano Indonesia.



To read the complete article, register your details above
to be notified once the revamped Construction Plus App is ready!