NEWS & EVENTS ONLINE EXCLUSIVE

Jalani Proses 8 Bulan, 5 Produk Atap Ringan Bitumen PT Onduline Indonesia Raih Green Label

Foto: PT Onduline Indonesia

Konsep ramah lingkungan (green) mulai diadopsi dalam pengembangan konstruksi di Indonesia tahun 2004/2005 menyusul menguatnya isu pemanasan global (global warming). Di industri properti dan konstruksi, kawasan hunian yang memiliki banyak area hijau atau bangunan rumah yang memiliki taman, memiliki daya jual lebih tinggi karena dianggap punya nilai tambah.

Tak hanya rumah tinggal, belakangan isu green mulai menyorot produk-produk buatan pabrik, salah satunya adalah produk bahan bangunan ramah lingkungan. Mendukung hal tersebut, produsen atap bitumen PT Onduline Indonesia menginisiasikan proses untuk mendapatkan label ramah lingkungan untuk sejumlah produk atap ringan bitumen andalannya.

Melalui proses panjang semenjak Februari tahun ini, selama delapan bulan, pada 7 Oktober 2022 lalu, sebanyak lima produk atap ringan bitumen dari PT Onduline Indonesia memperoleh sertifikasi Green Label Indonesia dengan predikat tertinggi GOLD dari Green Product Council (GPC) Indonesia. Penyerahan sertifikat diberikan oleh Chief Operation Officer (COO) GPC Indonesia Yoyok Setio Hermanto kepada Country Director PT Onduline Indonesia Esther Pane secara langsung, Selasa, 22 November 2022.

Sertifikasi Green Label merupakan prestasi bagi PT Onduline Indonesia dalam mewujudkan atap ringan yang ramah lingkungan. Selain itu, hal ini juga merupakan upaya perusahaan untuk terus berkomitmen untuk berkontribusi pada keberlangsungan lingkungan. Adapun lima produk PT Onduline Indonesia yang mendapat sertifikasi Green Label adalah Onduline Classic, Onduvilla, Onduline Tile, Onducasa, dan Onduline Ridge C100 Classic.

Seluruh produk atap tersebut dinyatakan lolos uji produk hijau setelah melakukan sejumlah verifikasi lapangan oleh lembaga pengujian dan inspeksi Internasional Association of Plumbing and Mechanical Official (IAPMO) dengan referensi dari berbagai instansi negara lainnya, untuk memastikan produk dibuat dengan standar keberlanjutan (sustainability) sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Foto: PT Onduline Indonesia

Untuk mendapatkan sertifikasi Green Label tersebut pihaknya harus melalui 10 tahapan dengan 13 kriteria audit mulai dari aspek pembelian bahan baku hingga proses produksi. Secara umum yang paling terpenting dari produk ramah lingkungan justru ada di dalam manufacturing process. Aspeknya beragam, mulai dari pembelian bahan baku hingga proses produksi. Dengan demikian, barang yang telah jadi dipastikan melalui standar hijau yang ditetapkan penguji.

Selain prestasi, Esther menyebut Green Label juga menjadi salah satu titik dalam roadmap mewujudkan green business dan konsep keberlanjutan pada industri bahan bangunan. Ia berharap Green Label yang telah dimiliki menjadi ciri khas Onduline yang selalu erat dengan ramah lingkungan yang tidak memiliki kandungan metal dan unsur asbes di dalamnya, memiliki perlindungan akustik yang baik, tidak mengandung karat dan korosi sehingga cocok untuk daerah pesisir pantai dan daerah rawan gempa karena ringan dan fleksibel.

Dengan adanya sertifikasi Green Label pada atap bitumen Onduline ini, diharapkan seluruh masyarakat, baik pemilik rumah dan bangunan, kontraktor, developer maupun para arsitek, lebih memperhatikan pemilihan material bangunan. Terlebih, konsumen saat ini juga semakin tercerahkan dan familiar dengan konsep hijau tersebut. — Construction+ Online