COMMENTARY ONLINE EXCLUSIVE

Infrastruktur Bendungan Tingkatkan Kedaulatan Sumber Daya Air Indonesia yang Berkelanjutan

Bendungan Jatiluhur, Jawa Barat; Image by Akhmad Dody Firmansyah/Shutterstock

OLEH CHRISPINA YOVITA PUTRI

Ketersediaan air Indonesia cukup besar dengan volume hingga 3,9 triliun meter kubik per tahun. Sementara itu, keberadaan infrastruktur tata kelola air yang tersedia untuk menampung volume air belum memadai untuk keperluan penyedia air baku; tampungan air untuk reduksi banjir; pembangkit listrik tenaga air; irigasi untuk menjaga ketahanan pangan; hingga potensi pariwisata untuk menumbuhkan ekonomi lokal.

Dengan kesadaran atas isu tesebut, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berupaya meningkatkan infrastruktur pengelolaan air dengan menggalakkan proyek bendungan untuk menjaga ketahanan dan keberlanjutan sumber daya air. Secara khusus, Proyek Strategis Nasional (PSN) ini ditujukan untuk berfokus pada sektor pertanian untuk meningkatkan kapasitas irigasi dalam rangka mendukung visi ketahanan pangan secara nasional. PSN bendungan ini diaktualisasikan dalam dua periode pembangunan, yaitu periode 2015-2020 yang berhasil menambah kapasitas pada 18 bendungan; dan periode 2020-2024 dengan target sebanyak 61 bendungan.

PROYEK 18 BENDUNGAN UNTUK NEGERI (2015-2020)

Dalam kurun waktu 2015-2020 Kementerian PUPR membangun 18 bendungan untuk menambah volume tampungan air di Indonesia seperti tertera pada tabel berikut:

Baca juga:

Jamin Ketersediaan Air di Serang, Presiden Jokowi Resmikan Bendungan Multifungsi Sindangheula

Setelah Tukul, Presiden Jokowi Resmikan Bendungan Tapin

KELANJUTAN PEMBANGUNAN BENDUNGAN (2020-2024)

Dikutip dari BeritaSatu, pemerintah mengumumkan PSN PUPR 2020-2024 pada bidang sumber daya air senilai Rp 28.1 triliun. PSN ini akan direalisasikan untuk memenuhi target visium Kementerian PUPR tahun 2030 untuk meningkatkan rasio tampungan air terhadap jumlah penduduk yang saat ini baru mencapai 50 meter kubik per kapita per tahun menjadi sebesar 120 meter kubik per kapita per tahun.

Berikut beberapa bendungan yang sedang dalam tahap pembangunan:

Bendungan Karallloe, Gowa, Sulawesi Selatan
Bendungan Karallloe mulai dibangun sejak Desember 2013. Saat ini progres fisik bendungan sudah diatas 90% dan ditargetkan selesai pada Juli 2021. Dengan kapasitas sebesar 40.53 juta meter kubik, bendungan ini telah mencapai tahap impounding atau penggenangan awal untuk menjaga kontinuitas suplai air irigasi ke lahan pertanian.

Dengan luas genangan 248.50 Hektare, suplai air bendungan ini akan digunakan untuk mengairi lahan irigasi seluas 7,004 Hektare; sumber air baku 440 liter per detik; pembangkit listrik mikrohidro 4.5 MW; dan pengendali banjir untuk Kabupaten Gowa sebesar 49 meter kubik per detik. Bendungan Karalloe juga memiliki potensi sebagai destinasi pariwisata dengan adanya hutan yang mengelilinginya.

Bendungan Way Sekampung, Pringsewu, Lampung
Dibangun dengan biaya Rp2,07 triliun, progres fisik pembangunan Bendungan Way Sekampung telah mencapai 92,24%. Bendungan ini ditargetkan rampung dan dilanjutkan dengan proses impounding pada Juli 2021.

Dengan kapasitas tampung 68.06 juta meter kubik dan luas genangan mencapai 800 Hektare, Bendungan Way Sekampung menjadi bagian dari upaya pengendalian banjir di Provinsi Lampung yang terhubung dengan Bendungan Batutegi dan Margatiga.

Bendungan Way Sekampung juga akan dimanfaatkan untuk penyediaan air untuk 72,707 Hektare area irigasi; penyedia air baku dengan debit 2,482 liter per detik; potensi tenaga listrik sebesar 5.4 MW; mereduksi banjir sebesar 185 meter kubik per detik; serta menjadi objek wisata di Kabupaten Pringsewu.

Bendungan Manikin/Tefmo, Kupang, Nusa Tenggara Timur
Progres pekerjaan pembangunan Bendungan Manikin/Tefmo, saat ini telah mencapai 28% dengan target penyelesaian pada akhir tahun 2022. Bendungan ini direncanakan dapat memenuhi kebutuhan irigasi lahan pertanian seluas 310 Hektar di Kabupaten Kupang dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku sebesar 700 liter per detik untuk Kota dan Kabupaten Kupang; Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebesar 0.125 MW; dan pengendalian banjir 531.70 meter kubik per detik. Selain itu Bendungan Manikin/Tefmo dapat dimanfaatkan sebagai tempat pariwisata dimana telah direncanakan lansekap dengan arsitektur lokal khas NTT.

KESIMPULAN

Dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur, 18 bendungan telah rampung dibangun selama tahun 2015-2020. Pembangunan bendungan akan terus dilanjutkan untuk meningkatkan tampungan air nasional.

Saat ini, Kementerian PUPR menargetkan sebanyak 61 bendungan baru tuntas secara bertahap hingga 2024, sehingga akan menambah jumlah daya tampung air sebesar 3,836.38 juta meter kubik. Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan pengelolaan sumber daya air dan irigasi akan terus dilanjutkan dalam rangka membangun ketahanan air, pangan dan energi yang berkelanjutan. — Construction+ Online

Bendungan Jatigede, Jawa Barat; Image by Akhmad Dody Firmansyah/Shutterstock