COMMENTARY

Industri Semen Nasional: Pandemi, Dilema & Strategi

Pertumbuhan penjualan semen secara nasional masih berada dalam posisi minus. Hal ini disebabkan oleh turunnya permintaan akibat pandemi COVID-19 yang dimulai pada pertengahan kuartal pertama 2020. Sektor pembangunan infrastruktur yang ikut terdampak menjadi salah satu penyebab utama dari kondisi ini. Bagaimana masa depan industri semen nasional dan apa strategi yang dilakukan oleh asosiasi serta pemerintah dalam memperbaiki dilema ini? Widodo Santoso selaku Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) memaparkan pandangan-pandangannya terhadap salah satu industri material konstruksi paling vital di tanah air.

Asosiasi Semen Indonesia (ASI) yang beranggotakan 14 perusahaan semen dari Sabang sampai Merauke memiliki keseluruhan total produksi sebesar 110 juta ton per tahun. Tahun 2021, kapasitas produksinya akan bertambah menjadi 116 juta ton dengan beroperasinya pabrik baru, yaitu Semen Grobogan, Semen Singa Merah, dan Semen Merah Putih. Namun, terdapat tantangan di mana industri konstruksi melambat 3-5%, bahkan pernah minus tidak ada kenaikan pada tahun 2016 sehingga dengan situasi dan kondisi seperti ini maka terjadi kelebihan kapasitas semen yang cukup besar.

Total ekspor semen dalam negeri hanya mencapai 72 juta ton per tahun

Total ekspor ditambah kebutuhan dalam negeri tahun 2020 hanya mencapai 72 juta ton per tahun. Pandemi COVID-19 turut mempengaruhi pemenuhan kebutuhan dalam negeri, di mana kebutuhan semen dalam negeri tahun 2019 mencapai angka 70 juta ton per tahun. Saat pandemi kebutuhan semen dalam negeri turun 10% atau sekitar 62.73 juta ton per tahun. Akan tetapi, selama pandemi tersebut industri semen ekspansi ke pasar ekspor, sehingga mengalami kenaikan dari 6.45 juta ton per tahun menjadi 9,3 juta ton per tahun atau naik 44%. Dengan demikian total penjualan semen dalam negeri terhadap ekspor turun hanya 6% dibandingkan tahun sebelumnya (2019).

Selain diakibatkan oleh adanya pandemi, penurunan ini disebabkan oleh turunnya anggaran infrastruktur yang dipotong karena dialokasikan untuk biaya penanganan bencana COVID-19 yang cukup besar ditambah kebutuhan dalam negeri tahun 2020 Konsumsi pada infrastruktur tahun ini, juga terkena pemotongan anggaran  sehingga hanya tingga sekitar 80 triliun rupiah, di mana pada tahun 2019 anggaran PUPR sekitar 120 triliun rupiah.

Semen Baturaja

Dari data yang ada, seperti pembangunan jalan dan proyek strategis, konsumsi semennya turun sekitar 22% (indikasi konsumsi semen curah). Sementara itu, konsumsi untuk perumahan hanya turun sekitar 6% (indikasi  penurunan konsumsi cement bag) sehingga total penurunan konsumsi semen domestik menjadi sekitar 10% untuk kebutuhan dalam negeri. Perlu diketahui perbandingan konsumsi properti, infrastruktur, dan proyek strategis adalah sekitar 75% untuk properti dan 25% untuk infrastruktur dan proyek strategis.


WIDODO SANTOSO, MBA
KETUA ASOSIASI SEMEN INDONESIA (ASI)

Widodo sudah memiliki rekam jejak karier di industri konstruksi dan semen sejak lebih dari 40 tahun lalu. Selama 19 tahun dari tahun 1980, ia menjabat sebagai staf pimpinan PSTS. Sejak tahun 2000 hingga 2003, ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Semen Kupang. Memasuki tahun 2004, Widodo bekerja di PT Semen Padang sebagai Direktur Pemasaran. Pada tahun 2009, ia menduduki posisi Direktur Utama PT Semen Padang hingga tahun 2011. Tahun 2012 sampai 2017, ia menjabat sebagai Komisaris di PT Semen Tonasa. Saat ini, Widodo menjabat sebagai Komisaris di PT Semen Gresik, selain juga menjadi Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) dan juga anggota Tim Teknis dari Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.



To read the complete article, register your details above
to be notified once the revamped Construction Plus App is ready!