NEWS & EVENTS ONLINE EXCLUSIVE

Usai Pasarkan Tower Kedua, Mahata Tanjung Barat Segera Luncurkan Tower Ketiga

Sebagai BUMN yang berkecimpung di sektor properti, Perumnas terus berupaya menghadirkan hunian yang tidak hanya terjangkau bagi masyarakat Indonesia, namun juga memiliki kualitas yang baik. Hal ini dibuktikan dengan sinergi Perumnas dengan PT Kereta Api Indonesia dalam menghadirkan Mahata Tanjung Barat, hunian berbasis transportasi pertama di Indonesia yang mengintegrasikan hunian dan moda transportasi umum berupa KRL dan bus.

Mahata Tanjung Barat diluncurkan secara perdana pada 25 Maret 2018 di atas lahan seluas 15.244 hektare yang dapat mengakomodasi total 1.216 unit hunian. Proyek yang berada tepat di Stasiun Tanjung Barat Jakarta ini menelan biaya sekitar Rp 720 Milliar. Hingga akhir Juli lalu, pembangunan fisik sudah mencapai level 7 dari level basement dan target konstruksi dapat diselesaikan di semester kedua tahun 2020.

“Kami melihat animo yang luar biasa pada proyek yang dinamai Mahata Tanjung Barat ini dengan sudah sold out-nya tower tipe subsidi dan terjual sekitar 85% untuk 1 tower tipe komersial. Saat ini kami meluncurkan tower komersial berikutnya dengan total unit hunian sekitar 440 unit,” ujar Anna Kunti, Direktur Pemasaran Perum Perumnas di sela-sela peluncuran tower Prasada II Mahata Tanjung Barat pada Minggu, 28 Juli 2019 lalu.

Terdapat tiga tipe unit yang ditawarkan pada proyek Mahata Tanjung Barat, yaitu tipe Studio, tipe 1 Bedroom, dan tipe 2 Bedroom yang memiliki luas 21-46 meter persegi. Dengan lokasi yang strategis di Jakarta Selatan, hunian ini dilengkapi dengan beragam area komersial, park and ride, amfiteater, serta koneksi langsung menuju Stasiun Tanjung Barat, halte bus, dan juga AEON Mall.

Sebagai hunian yang terintegrasi moda transportasi publik, Mahata Tanjung Barat menjadi salah satu solusi hunian yang mendukung efisiensi waktu dan mobilitas masyarakat Jakarta untuk menjalani aktivitasnya sehari-hari. “Kami berharap kedepannya konsep hunian terintegrasi ini dapat ditelurkan ke kota-kota besar lainnya di Indonesia. Dengan demikian, tidak hanya tingkat kemacetan yang dapat ditanggulangi, namun juga polusi udara juga dapat dikurangi secara signifikan,” tutup Anna. ― Construction+ Online