Sektor Properti dan Ritel Akan Bangkit Tahun Depan

Saat ini, pertumbuhan sektor properti dan ritel harus diakui masih rendah. Bahkan, beberapa merek ritel tanah air mencatat penjualan minus. Pada awal Desember lalu, Andry Asmoro, Ekonom Bank Mandiri, mengatakan bahwa penjualan ritel, seperti supermarket Ramayana dan Ace Hardware tercatat turun hingga kuartal III/2018 sebesar 16,3% dan 5,6%. Menurutnya, persentase 5% dari sektor ritel tersebut sudah mencakup sektor properti dan angka tersebut akan bertahan hingga tahun 2019.

Menurut Andry, rendahnya pertumbuhan sektor ritel dan properti Indonesia disebabkan karena minimnya minat belanja masyarakat kelas menengah bawah. Hal ini tidak berlaku untuk kelas menengah ke atas, karena kalangan ini memiliki kemampuan daya beli yang baik apabila pada sektor ekonomi, sosial, dan politik dinilai relatif aman.

Kendati demikian, Andry meyakini tantangan ini dapat diselesaikan oleh pemerintah. Ia memperkirakan bahwa daya beli berbagai kelas dapat membaik dan pada akhirnya dapat mendorong sektor properti pada tahun depan. “Potensi sektor properti menurut hitungan kami memang masih tinggi dan relatif disukai pada kisaran harga Rp 500 juta. Namun, untuk kisaran di atas Rp 2 miliar, waktu tunggunya penjualannya menurut kami masih akan lebih lama,” tutupnya. — Construction+ Online

cplus-ad3