PROJECTS

JPO Sudirman

Sebagai jalan arteri paling utama di Jakarta, Sudirman menjadi koridor penting bagi transportasi bisnis dan ekonomi. Dengan jalan yang sangat lebar, kebutuhan untuk mengantarkan orang dari sisi satu ke sisi lainnya menjadi kebutuhan sentral. Tiga buah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Sudirman diperbaharui, tidak hanya untuk memberikan fasilitas pendukung transportasi bagi pengguna, dalam hal ini manusia, tetapi juga memberikan representasi yang estetis yang dapat mengubah kota Jakarta menjadi jauh lebih segar.

TIGA JPO YANG TIDAK MEMADAI
Kondisi eksisting JPO lama secara fungsi memang masih dapat digunakan, namun dari segi kenyamanan tidak optimal. Kondisi tersebut salah satunya disebabkan oleh atap yang terlalu tinggi sehingga air tampias saat hujan lebat turun, lantai pelat baja yang licin dan bergelombang sehingga membahayakan, serta ramp pada tangga yang terlalu curam sehingga sulit untuk diakses oleh kaum disabilitas. Untuk itu, Arkonin diminta untuk melakukan perubahan dan perbaikan, terutama pada aksesibilitas kaum disabilitas dan kenyamanan pengguna, terutama untuk 3 buah JPO pilihan di kawasan Sudirman, yakni Bunderan Senayan, Gelora Bung Karno (GBK), dan Polda Metro Jaya.

Ketiga JPO ini memiliki masalah yang sama yang perlu diselesaikan melalui kriteria desain yang baik, yakni memanfaatkan penggunaan konstruksi utama eksisting sehingga konstruksi baru di atasnya harus lebih ringan dan cukup kuat untuk menahan beban angin di koridor utama. Ajang olah raga besar Asian Games 2018 juga turut membuat proyek JPO ini harus dipercepat, meski kemudian tenggatnya digeser hingga Februari 2019.

Desain dan penataan cahaya JPO Sudirman ini datang dari Arkonin yang berkolaborasi dengan konsultan arsitektur Pavilion 95. Sementara itu, penanganan aspek engineering yang terdiri dari struktur, mekanikal dan elektrikal, serta quantity surveyor dilakukan oleh Arkonin.

GBK YANG MENGINSPIRASI
Konsep pengulangan dengan materi fasad yang ringan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi jadwal kerja yang padat. Pengembangannya menjadi spirit of place di mana JPO ini mengikuti konsep desain kawasan Senayan, terutama GBK yang kemudian dijadikan focal point koridor proyek tersebut. Dinamika kegiatan warga Jakarta, baik bekerja, berpindah, dan berolahraga menjadi titik utama desain.

GBK yang erat dengan aktivitas tersebut menjadi inspirasi dalam pengolahan komposisi kulit fasad JPO yang dibuat dengan sistem modular. Ketiga JPO ini dibuat seragam, kecuali pada simpul GBK yang dibuat lebih menggelora dengan teknik melintir atau terpilin sebesar 4,5 derajat pada masing-masing modulnya. Kehadiran modul-modul bak cincin ini sekaligus memberikan pemisah yang memungkinkan JPO baru tersebut memberikan suasana skyline baru di koridor Sudirman yang sebelumnya tidak terasa.

PROSES PENGERJAAN
Tampilan eksterior proyek ini tidak hanya berbeda dengan JPO lain pada umumnya, tetapi juga memiliki performa yang lebih baik. Penggunaan atap solid polycarbonate yang melengkung memberikan proteksi terhadap kemungkinan tampias hujan. Selain itu, pemanfaatan UV coating pada permukaannya juga membuat suhu di atas JPO tidak terlalu tinggi. Material lantai decking yang memanfaatkan GRM dengan gap 5 milimeter memberikan suasana yang lebih hangat, tidak keras, dan menghindari adanya geNangan air bila terjadi tampias.

Sementara itu, pemanfaatan cincin sandwich panel warna putih yang dilengkapi dengan penataan cahaya dengan RGB LED yang dapat berubah warna sesuai kebutuhan juga ikut mempercantik JPO ini secara keseluruhan. Melakukan pembangunan di jalan protokol ibukota menjadi salah satu tantangan selama 3 bulan proses pengerjaannya. Proses re-installment trotoar dan penebalan aspal menjelang Asian Games 2018 telah menciptakan ukuran clearance di JPO menjadi berubah dari ukuran awal sehingga harus dilakukan penyesuaian terhadap desain cincin eksterior dengan pembuatan tumpuan baru. Demikian halnya dengan pemilihan tipe lift yang harus memiliki pit lift dangkal (40-50 cm saja)

Dinas Bina Marga DKI Jakarta selaku pemilik proyek mengharapkan agar selain faktor kenyamanan, Arkonin juga harus memanfaatkan kembali konstruksi utama jembatan lama (tiang dan girder baja, termasuk ramp) dengan fokus peremajaan pada bagian fasad. Kendati demikian, Arkonin menganggap bahwa kondisi lantai dan penutup atap juga menjadi titik berat lain yang ingin diselesaikan. Apalagi mengingat bahwa kondisi ramp yang ada sudah tidak memenuhi syarat dan membahayakan sehingga perlu dilakukan penambahan lift pada kedua sisinya.

DATA PROYEK
Nama Proyek: Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Sudirman
Lokasi: Bunderan Senayan, Gelora Bung Karno (GBK), dan Polda Metro Jaya – Sudirman
Selesai: 2019
Klien/Pemilik: Dinas Bina Marga Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Konsultan Arsitekur: Arkonin
Principal Architect: Achmad Noerzaman
Team Leader: Firman S. Herwanto
Project Manager: Salman Alfaris
Tim Arsitek:
Fiyonda Kokarkin
Cahyo W Candrawan
Arief Kurniawan
Naufal Imaduddin
Konsultan Sipil & Struktur: Arkonin
Konsultan Mekanikal & Elektrikal : Arkonin
Konsultan Pencahayaan: 
Agust Danang Ismoyo
Boby Rana
Nurul Azizah
Foto/Gambar: Shutterstock