PROJECTS

Jakarta International Velodrome

Ketika terpilih menjadi tuan rumah Asian Games 2018, Indonesia mulai mempersiapkan berbagai arena olah raganya untuk mendukung terselenggaranya pesta olah raga terbesar se-Asia ini. Salah satu venue olah raga yang dibangun untuk mendukung ajang tersebut adalah Jakarta International Velodrome, sebuah velodrom di Jakarta Timur untuk mengakomodasi olah raga balap sepeda. Tidak hanya menarik secara fungsi, proyek ini memakai teknologi modular dan prefabrikasi untuk menunjang desain dan strukturnya.

Jakarta International Velodrome didesain oleh konsultan arsitektur Indonesia, yaitu Bamko Karsa Mandiri (BKM) yang berkolaborasi dengan COX Architect. Sejak direncanakan pada tahun 2016, velodrom ini memerlukan periode konstruksi yang relatif singkat, yaitu selama 12 bulan. Waktu konstruksi yang singkat ini dilatarbelakangi oleh aplikasi struktur modular fabrikasi untuk mempersingkat proses pengerjaan di lapangan. Bahkan, proyek ini juga diakui sebagai velodrom terbaik di dunia.

ARENA BERTARAF INTERNASIONAL
Latar belakang pembangunan velodrom ini adalah untuk menyediakan arena balap sepeda indoor bertaraf internasional yang diakui oleh Union Cycliste Internationale (UCI) atau Federasi Sepeda Internasional dalam rangka mendukung kegiatan Asian Games ke-18 di Indonesia.

Saat pertama kali diberi tanggung jawab untuk mengerjakan proyek, kondisi sebagian site sudah menjadi lahan kosong, tetapi di area lanskap masih terdapat bangunan pemerintah yang harus dibongkar dan sedang menunggu penghapusan lahan. Tanaman eksisting dan kontur lahan masih dipertahankan dan menjadi bagian perancangan bangunan dan kawasan. Di area tapak pada bagian Jl. Balap Sepeda, Jakarta International Velodrome terintegrasi secara keseluruhan dengan area publik dan infrastruktur transportasi LRT.

Desain Jakarta International Velodrome mempertimbangkan pendekatan teknis dan non-teknis. Pendekatan teknis erat kaitannya dengan standar dimensi yang harus diikuti dalam peraturan yang dikeluarkan oleh UCI, meliputi panjang dan bentuk lintasan. Standar perancangan teknis juga harus sesuai dengan peraturan UCI, khususnya dalam perancangan lintasan balap sepeda yang meliputi material, detail sistem, dan pengerjaan konstruksi yang langsung diawasi oleh UCI.

Lintasan arena ini memiliki standar dimensi panjang 250 meter dengan bentuk dan sudut lintasan yang harus mengikuti standar, termasuk juga pemilihan warna yang sudah ditentukan. Pemilihan material kayu yang diaplikasikan juga harus menggunakan kayu Siberia yang sudah mendapat lisensi untuk kekuatan dan mutunya dari UCI. Warna yang digunakan pun harus melewati proses verifikasi.

Jalur balap sepeda yang direncanakan mengedepankan sistem modular, karena menerapkan standar dari penggunaan material kayu Siberia yang sudah diverifikasi. Desain tersebut juga harus mempunyai modul yang memudahkan pembuatan detail jalur, di mana desain modular ini sangat membantu proses pemasangan dan pengiriman barang yang dilakukan dari Eropa ke Indonesia.

Sistem modul juga diterapkan pada atap dan dinding bangunan yang terbuat dari membran. Material ini juga didatangkan dari Inggris Raya.

Alokasi bujet untuk jalur balap sepeda menjadi tantangan pada proyek ini, karena material kayu Siberia harus disesuaikan dengan level humidity di Jakarta. Dengan demikian, harus ada penambahan sistem air conditioning untuk menjaga humidity supaya tidak terjadi kerusakan selama pemakaian jalur balap sepeda tersebut.

DESAIN YANG DINAMIS
Sebagai arsitek, BKM dan COX Architect mengolah perancangan Jakarta International Velodrome yang teknis secara dinamis dengan mepertimbangkan kontur, lingkungan sekitar, vegetasi eksisting, dan kolaborasi desain dengan proyek pembangunan LRT. Proses massing diawali dari bentuk lintasan dengan standar yang sangat teknis.

Kebutuhan dan standar dimensi ruang juga mengikuti bentuk lintasan yang diolah secara efisien sesuai kebutuhan dan sirkulasi velodrom berstandar internasional. Setelah mengolah area lintasan, proses pengerjaan dilanjutkan menuju pengolahan kebutuhan tribun sesuai standar dimensi yang juga ditentukan oleh UCI, serta kebutuhan teknis untuk lighting dan akustik ruang sehingga menciptakan desain bagian dalam bangunan.

Desain atap dikembangkan dengan menggubah bentuk atap dan fasad bangunan dengan konsep dinamis dan transparan. Atap juga ditunjang dengan sistem struktur bentang lebar yang efisien dan ikonik. Selain itu, atap dapat juga mendukung sistem lighting dan utilitas bangunan secara integratif.

Jakarta International Velodrome memiliki keunikan dari segi teknis berupa jalur sepeda dan non-teknis berupa bentuk bangunan. Selain jalur sepeda, bentuk bangunannya juga sangat unik dengan bentuk oval dan transparansinya yang mengaplikasikan membran sebagai material utama yang dikombinasikan dengan terakota untuk membentuk warna merah dan putih.

MASSA IKONIK DENGAN MATERIAL FABRIKASI MODULAR
Desain Jakarta International Velodrome mengusung konsep ikonik yang melebur dengan lingkungan sekitar. Velodrom ini diharapkan dapat meningkatkan nilai kawasan, serta memberikan nuansa lokalitas pada desain bangunan. Pada bagian dinding, sentuhan lokal diterapkan dengan pemilihan material terakota yang didesain khusus dan berpola.

Selain itu, elemen lokalitas lainnya ditonjolkan melalui aplikasi ornamen yang diambil dari bentuk gigi balang yang memiliki analogi dan penyesuain bentuk massa bangunan dengan gaya kekinian. Transformasi bentuk gigi balang juga diterapkan pada material membran pada fasad yang diinterpretasikan sebagai diamond di kawasan ini.

Tantangan lain yang terjadi pada proyek ini adalah penerapan modul yang harus dikomunikasikan ke semua stakeholders desain, meliputi disiplin arsitektur, struktur, dan konsultan MEP. Kontraktor pun sudah dilibatkan untuk memahami desain Jakarta International Velodrome sejak tahap awal sehingga memudahkan pemasangan modul yang ditentukan di lapangan.

Selain bujet dan komunikasi, tantangan datang saat melakukan perencanaan massa bangunan velodrom untuk mengkaji penggunaan bangunan pada saat dan setelah kegiatan Asian Games berlangsung. Kebutuhan ruang tambahan untuk pemain dan panitia pada saat Asian Games harus dipertimbangkan perletakannya, serta harus dikomunikasikan dengan panitia terkait. Sebagai desainer, BKM dan COX Architecture juga harus memikirikan bangunan ini agar dapat “menghidupi” dirinya sendiri setelah Asian Games, khususnya untuk menjaga humidity ruang yang berdampak terhadap kualitas kayu yang digunakan pada lintasan.

Dengan struktur modular dan material fabrikasi, Jakarta International Velodrome dapat diselesaikan dalam waktu hanya satu tahun. Arena balap sepeda ini pun telah mendapatkan sertifikasi kategori 1 dari UCI, bahkan sudah diakui sebagai velodrom terbaik di dunia.

DATA PROYEK
Nama Proyek: Jakarta International Velodrome
Lokasi: Jl. Balapan Sepeda, Rawamangun, Jakarta Timur
Periode Konstruksi: 2016 hingga Juni 2018
Luas Area: 99.432 meter persegi
Luas Bangunan: 13.942 meter persegi
Jumlah Lantai: 4
Klien/Pemilik: JAKPRO (Jakarta Propertindo)
Konsultan Arsitekur: BKM (Bamko Karsa Mandiri) JV COX Architect
Principal Architect: Andi Harapan, IAI & Richard Coulson
Konsultan Desain Interior: BKM (Bamko Karsa Mandiri)
Principal Designer: Andi Harapan, IAI
Konsultan Sipil & Struktur: Mott Macdonald London
Konsultan Mekanikal & Elektrikal: Mott Macdonald London
Konsultan Lighting : Mott Macdonald London
Konsultan Lanskap: BKM (Bamko Karsa Mandiri)
Kontraktor: ESG Global London JV WIKA Gedung
Kontraktor Fit-Out Interior: WIKA Gedung
Foto/Gambar: BKM (Bamko Karsa Mandiri)