PROJECTS

De Tjolomadoe

Latar belakang sejarah yang kuat menjadikan bangunan Pabrik Gula (PG) Colomadu di Karanganyar, Jawa Tengah sebagai salah satu warisan cagar budaya. Setelah sekitar dua dekade berhenti beroperasi, kondisi bangunan PG Colomadu terbengkalai dan mengalami degradasi karena operasional pabrik tidak difungsikan. Hal ini mendorong Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk merevitalisasi bangunan tersebut hingga dapat difungsikan kembali dengan melakukan rebranding menjadi De Tjolomadoe.

Setelah direvitalisasi dan direbranding, kini De Tjolomadoe menjadi sebuah destinasi wisata heritage sebagai pusat kebudayaan dan area komersial. De Tjolomadoe diharapkan dapat menjadi destinasi wisata baru di Jawa Tengah yang mampu meningkatkan produktivitas ekonomi daerah Karanganyar, sekaligus mengembangkan aspek seni, heritage, dan pariwisata di kawasan tersebut.

DEGRADASI WARISAN CAGAR BUDAYA
PG Colomadu pertama kali didirikan pada tahun 1861 pada masa Sultan Mangkunegara IV. Pada tahun 1998, PTPN-IX sebagai pengelola menutup operasional pabrik sehingga bangunan ini tidak difungsikan. Padahal semasa beroperasi, bangunan yang berusia sudah lebih dari 100 tahun ini dianggap memiliki fungsi vital sehingga tidak heran jika ditetapkan menjadi salah satu warisan cagar budaya terpenting di Karanganyar, Jawa Tengah.

Selama operasional pabrik berhenti, kondisi PG Colomadu mengalami degradasi akibat terbengkalai. Semak belukar dan pohon liar tumbuh, serta mendominasi seluruh area pabrik. Sebagian besar lantai retak dan pecah, sementara atap seng banyak yang berlubang dan sebagian terlepas dari rangka bajanya. Pelapis dinding bata yang terbuat dari kapur banyak yang sudah mengelupas dan pecah.

PELESTARIAN BANGUNAN MELALUI REVITALISASI
Menarik inti dari Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, disebutkan bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan perilaku kehidupan yang memiliki arti penting bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian warisan cagar budaya perlu dilestarikan.

Revitalisasi merupakan salah satu bentuk pelestarian bangunan cagar budaya dengan upaya menghidupkan kembali suatu kawasan atau bagian kawasan yang dulunya vital, tetapi kemudian mengalami degradasi. Tujuan revitalisasi adalah untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai penting cagar budaya melalui penyesuaian baru yang tidak bertentangan dengan prinsip pelestarian dan nilai budaya masyarakat.

Pada tahun 2017, Kementerian BUMN mengambil keputusan untuk menghidupkan kembali PG Colomadu dengan menunjuk beberapa perusahaan serta anak perusahaan BUMN membentuk Joint Venture bernama PT Sinergi Colomadu untuk melaksanakan revitalisasi. PT Sinergi Colomadu kemudian bekerja sama dengan konsultan arsitektur PT Airmas Asri untuk merancang desain kawasan. Revitalisasi dilakukan dengan memberi fungsi baru sebagai destinasi wisata heritage dan dilakukan rebranding menjadi De Tjolomadoe. Cara ini dilakukan dengan menciptakan ruang yang dapat difungsikan kembali secara vital, pelestarian, dan penambahan pada bagian yang tidak mengganggu bangunan eksisting sehingga dapat menyesuaikan fungsi barunya.

DESAIN DESTINASI WISATA HERITAGE
PT Airmas Asri membuat perencanaan desain sesuai dengan hasil kajian highest and best use dari feasibility study. Berdasarkan hasil kajian tersebut, De Tjolomadoe difungsikan sebagai sebuah destinasi wisata heritage, pusat kebudayaan, dan area komersial yang mengikuti kaidah cagar budaya.

Revitalisasi De Tjolomadoe mempertahankan desain fasad bangunan yang ikonik, selain juga arsitekturnya memadukan unsur heritage dan modern dengan perpaduan industrial-finished pada desain interiornya. De Tjolomadoe tetap mempertahankan bentuk eksisting bangunan PG Colomadu dengan menambah transfer beam untuk memperkuat struktur.

FASILITAS BERSTANDAR INTERNASIONAL
Layout ruang dengan fungsi baru mengikuti denah eksisting saat masih berfungsi sebagai pabrik gula. Penamaan ruang pada fungsi baru mengikuti nama asli ruangan saat pabrik gula ini masih beroperasi. Terdapat Stasiun Gilingan yang kini menjadi area museum, Stasiun Penguapan dan Stasiun Ketelan sebagai area komersial, serta Stasiun Besali yang kini menjadi Besali Café. Sedangkan, Stasiun Masakan menjadi Tjolomadoe Hall dan Sarkara Hall, serta Stasiun Karbonatasi menjadi area Museum De Tjolomadoe. Mesin-mesin eksisting peninggalan pabrik gula tetap dipertahankan, lalu dilapisi cat khusus untuk mencegah karat sebagai bagian dari elemen arsitektur dan interior bangunan itu sendiri.

De Tjolomadoe memiliki fasilitas Meetings, Incentives, Convention and Exhibitions (MICE) berstandar internasional. Fasilitas-fasilitas tersebut di antaranya adalah: Tjolomadoe Concert Hall, Sarkara Multi-funtion Hall, Besali Café, area parkir outdoor timur, dan Amphitheatre Outdoor De Tjolomadoe. Venue MICE ini dilengkapi dengan fasilitas area parkir dengan kapasitas ratusan mobil, ruang artis, ruang VIP, area pre-function, serta sound system dan lighting.

Dengan fasilitas dan fungsinya sebagai pusat kebudayaan serta area komersial, De Tjolomadoe diharapkan dapat menjadi destinasi wisata baru di Jawa Tengah yang mampu meningkatkan produktivitas ekonomi daerah Karanganyar, sekaligus mengembangkan aspek seni, heritage, dan pariwisata di Solo Raya.

DATA PROYEK
Nama Proyek: De Tjolomadoe
Lokasi: Jl. Adi Sucipto No.1, Karanganyar, Jawa Tengah
Selesai: 24 Maret 2018
Luas Tapak: 6,4 hektar
Luas Bangunan: 1,4 hektar
Jumlah Lantai: 1
Tinggi Bangunan : 17,5 meter, tinggi cerobong asap 46 meter
Klien/Pemilik: PT Sinergi Colomadu
Konsultan Arsitektur: PT Airmas Asri
Principal Architect: PT Fajar Nusa Consultant
Konsultan Mekanikal & Elektrikal : PT Mitra Cipta Pranata & PT Duta Pratama Eng
Konsultan Pencahayaan: PT Restu Bumi Adhiyaksa
Kontraktor Utama: PT PP (Persero) Tbk
Foto/Gambar: PT Airmas Asri & Mario Wibowo Photography

cplus-ad3