NEWS & EVENTS ONLINE EXCLUSIVE

BCI Design Talks Digelar Pertama Kali di Surabaya

Setelah dilakukan pertama kali pada tahun ini di Jakarta, tanggal 11 Juli 2019 lalu di ajang Homedec 2019, maka 22 Agustus 2019 lalu diselenggarakan BCI Asia Design Talks lain di kota Surabaya. Bekerja sama dengan pihak penyelenggara, Debindo Mitra Tama, BCI Asia mengundang para pengunjung untuk ikut dalam perbincangan seputar dunia desain, khususnya interior, di tengah penyelenggaraan ajang Decorintex (Decoration Interior Expo) 2019 ke-7 yang diselenggarakan di Grand City, Surabaya.

Acara pada siang menjelang sore itu bertajuk “Design Innovations in Digital Era”, yang melibatkan pembicara tamu dari IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Jawa Timur yang diwakili Sekretaris Jenderal, Fafan Tri Afandy, IAI; HDII (Himpunan Desainer Interior Indonesia) Jawa Timur yang diwakili Wakil Ketua Widya Laxmita Dhamayanti, HDII; serta Budi Kurniawan selaku founder dan principal designer dari BK Interior Design + Architectural Planning. Dari pihak BCI Asia sendiri, diwakili oleh Aslakhul Umam selaku Senior Account Manager dari Surabaya, selain Anton Adianto selaku perwakilan BCI Asia Indonesia Publishing dan Senior Editor dari Construction+ Indonesia yang juga bertindak sebagai moderator acara ini.

Setelah dibuka oleh presentasi mengenai perkembangan pasar konstruksi dan bagaimana layanan yang dimiliki oleh BCI Asia untuk menjawab tantangan bisnis konstruksi dewasa ini, acara berlanjut pada pemaparan Building Information Management (BIM) yang disampaikan oleh Fafan Tri Afandy. “Kita tertinggal banyak dengan negara lain sehingga pemanfaatan teknologi digital dan tools yang pintar untuk menjadi desain menjadi tantangan tersendiri,” tambahnya. Mahalnya pengaplikasian BIM menjadi tantangan lain yang harus dihadapi oleh para desainer di Jawa Timur.

Hal serupa diamini oleh Widya Laxmita Dhamayanti lewat pandangannya seputar teknologi dalam desain. Namun, ia menekankan bahwa tetap lebih penting lagi unsur manusia yang memanfaatkan teknologi itu. “Teknologi yang sehebat apapun tetap tidak bisa menggantikan rasa dan sisi psikologis desain yang dihadirkan oleh manusianya. Semua harus berpulang pada manusianya itu sendiri,” ujar Widya.

Pemaparan yang lebih kompleks ditampilkan oleh BK Interior, yang juga sudah memenangkan BCI Interior Design Awards (IDA) 2018 dan 2019 lewat proyek Yin Zen Tea di Jakarta dan Bent and Light di Singapura. Kedua proyek ini sudah dimuat oleh majalah Construction+ Indonesia beberapa waktu lalu. Budi Kurniawan menjelaskan pendekatan desain yang selalu menuntunnya dalam berkreasi hingga detail-detail inovasi yang ia selalu gali untuk menghasilkan proyek-proyek berkelas. Satu proyek lain, Inane, bahkan menceritakan bentuk paling imajinatif dari sebuah seni instalasi yang digabungkan dengan arsitektur dan desain interior.

Setelah memasuki sesi tanya jawab dan diskusi menarik mengenai pentingnya kreativitas dalam desain dan peran asosiasi arsitek dan desainer interior, acara ditutup dengan kesimpulan bahwa era digital memang mempermudah dan memberikan efisiensi bagi para desainer. Namun, unsur manusianya (dalam hal ini para desainer) tetap menjadi faktor terpenting. Keberhasilan desain tidak serta merta muncul dari bantuan teknologi yang ada, tetapi justru dari kepala dan hati para kreatornya. — Construction+ Online